Monday, 24 August 2009

Karnaval, Pantai dan Perahu Nelayan Jember

"Kesibukan, tak menjadikan langkahku tersendat untuk sekedar menengok pantai di Jember itu. Sedikit cerita tentang Karnaval, dan menikmati perjalananku di Papuma."

Akhir Juli 2009, undangan diklat Pers Mahasiswa di Jember kembali membuat mataku jelalatan. Sayangnya, mataku jelalatan bukan karena lelakinya (menurutku biasa saja), justru karena rasa penasaranku untuk melihat sejarah dan keindahan Jember.

Saat acara berlangsung, panitia diklat menugaskanku (dan teman-teman peserta tentunya) untuk turun ke jalan (buka demo loh) dan melihat Jember Fashion Carnaval, JFC. JFC tuh menurutku lebih terkesan seperti pamer pakaian, tarian cewek cantik dan lelaki (agak) banci. Yah, memang seperti itu aku melihatnya. Tapi aku benar-benar salut melihat kostum pakaian mereka. Walau dalam setiap kostum pakaian, penari-penari itu (aku sebut penari soalnya yah memang cewek dan cowoknya kalau jalan pada goyangin pinggulnya lho)memiliki tema yang bagus, tapi sayangnya kurang mengena masyarakat. Duh, jadi ingat pas waktu itu, aku berkenalan dengan fotografer cakep asal Malang yang ikut hunting foto. Katanya aku mirip ceweknya (ampun deh mas).

Setelah tiga jam berlari-larian buat mengejar target, akhirnya aku bisa menggambil foto mereka lho, liat deh.



Terus, lihat ini juga deh, ceweknya pas cantik (menurutku).



Ada juga pose cowok yang menurutku "njijik'i". Lihat deh walau hasil fotonya tidak terlalu bagus.



Terakhir, aku paling suka foto ini, terkesan gimana yah.



Setelah berpeluh keringat, akhirnya semua peserta kembali ketempat diklat. Karena materi itu yang terakhir, aku menyimaknya dengan baik (pertama kalinya aku penasaran dengan materi yang diberikan).

Hari terakhir, hal paling aku tunggu (penasaran). Akhir acara, semua peserta akan mengikuti tour Papuma. Menurut informasi yang aku dapat (gak enak kalau sekalian gak tanya-tanya sama penjaga pantainya), nama lengkap Papuma tuh Tanjung Papuma alias Pasir Putih Malikan, dan nama Malikan itu sendiri adalah label yang diberikan oleh Perhutani yang mengelola daerah tersebut. Serta disebut Tanjung karena pantainya menjorok kedalam laut.

Sebelum tiba, aku melewati hutan lindung yang sangat asri dan lebat (Malikan). Dengan tanaman pohon serut dan palem yang memenuhi sepanjang jalan raya yang aku lintasi. Aku (dan pesera lainnya tentunya) menaiki truk yang berisi hampir 30 orang dengan menahan terik matahari yang sangat panas. Perjalanan hanya memerlukan waktu satu jam untuk tiba disana karena lokasinya dekat dengan tempat diklat.



(Info serius) Di Papuma terdapat bukit dan hutan seluas kurang lebih 50 Ha dengan berbagai hewan yang dilestarikan dan konon hutan Malikan masih menyimpan berbagi macam flora dan fauna tropis, seperti berbagai jenis burung dan juga Lutung serta Biawak. Papuma berada di desa Sumberejo kecamatan Ambulu kabupaten Jember. Jalan menuju kawasan ini sudah bagus karena sepanjang jalan telah di aspal. Seneng rasanya karena truk yang dinaiki tidak memungut biaya. Padahal biasanya kalau ada penyewaan kendaraan menuju Papuma biasanya harus mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu rupiah.



Setelah melewati hutan Malikan, mataku tertuju pada hamparan pasir putih yang bersih dan begitu indah (Tahun 2009 mah, Papuma masih bersih, gak sekotor sekarang) pantai yang berpanorama yang sangat eksotis dan benar-benar masih cantik dan asli. Aku langsung menelusuri pantai pasir putih,selain itu, aku melihat begitu banyak batu karang yang terombang ambing di tengah laut biru ini terlihat seperti pulau-pulau karang.



Menurut penjaganya (lupa namanya) ada tujuh karang besar di Papuma ini, deretan pulau karang ini memiliki nama sendiri-sendiri yang diambil dari tokoh pewayangan seperti, pulau batara guru, pulau kresna , pulau narada, pulau nusa barong, pulau kajang dan pulau kodok karena pulau karang ini bentuknya mirip dengan kodok raksasa yang timbul tenggelam di tengah laut. Disaat ombak sedang pasang akan terasa indah sekali bila kita melihat dari sudut pandang bawah sitihinggil karena akan terlihat tepat di depan mata bongkahan batu karang besar yang diterjang ombak besar. Disaat surut atau ombak kecil kita bisa turun dan berdiri diatas batu-batu karang yang kalau laut pasang batu-batu karang ini tidak terlihat karena tertutup air laut, berdiri diatas karang sambil sesekali terkena ombak sungguh menakjubkan sambil melihat pemandangan nan eksotis dan luar biasa.



Disepanjang pasir putih sebelah barat terdapat perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar. kalau datang jam 11.00 sampai 13.00 siang, biasanya ada nelayan yang jual ikannya. Aku membeli langsung ikan hasil tangkapan nelayan untuk dibakar di pinggir pantai, tentu saja dengan bantuan para pemilik warung makan yang ada di sepanjang pinggir pantai. Di saat surut aku melihat banyak nelayan yang mencari ikan dengan pancing, konon kalau kita berani menyeberang ikut para pemancing ini ke karang yang ditengah sungguh lebih menakjubkan lagi karena kita bisa berdiri diatas karang tinggi dan besar ditengah-tengah laut sambil melihat ombak yang menerjang karang yang tingginya kurang lebih 5 meter sungguh sensasinya luar biasa.



Papuma menghadap barat daya, sehingga kita bisa melihat pemandangan yang paling indah. Yah, di saat sunset, saat matahari terbenam tenggelam di air laut. Suasana dan pemandangan ini kami nikmati di bukit kecil yang dinamai sitihinggil dimana disana sudah dibangun sebuah joglo. Di joglo ini, kita bisa melihat seluruh wilayah tanjung papuma dari pasir putih, perahu nelayan, serpihan batu karang, karang kecil di bibir pantai dan juga bongkahan-bongkahan pulau karang di tengah laut. Menjelang sore, laut pasang, aku naik ke atas bukit. Diatas bukit ini kita bisa melihat keseluruhan pemandangan Tanjung PAPUMA dari arah timur sampai barat. Sitihinggil merupakan menara di atas bukit di ujung barat Tanjung PAPUMA. Menara itu sengaja dibuat oleh Perhutani sebagai tempat pelancong menatap seluruh panorama di kawasan Tanjung PAPUMA, sekaligus untuk tempat pemantuan keamanan satwa-satwa yang ada di kawasan itu.


Kesimpulannya, aku sedikit terhibur melihat pantai dengan luas 25 Hektar yang menyuguhkan banyak kelebihan. Hamparan pasir putih dengan tanjung melingkar sepanjang 1,5 km, barisan bukit hijau dengan pepohonan yang rimbun mengelilingi pantai. Ditambah lagi, pengunjung yang datang bisa sekalian melihat-lihat satwa liar yang ada di hutan. Penginapanpun juga tersedia, bagi kalian yang suka berpetualang disediakan camping ground menghadap ke pantai. Jika ingin juga bermalam di tanjung papuma disini terdapat beberapa villa yang disewakan oleh pengelola wisata dari pihak perhutani, harga penginapan dengan variasi fasilitas kamar ber AC, single bed, kamar mandi dalam, TV dan beranda kecil harga sekitar 300- 400 ribu. Good luck!

No comments:

Indonesia Voluntourism : Jelajah Rote Batch 1 2020

https://www.instagram.com/p/B81JQz7JBKa/?igshid=1mzuudl80hvfp Indonesia Voluntourism Jelajah Rote Syarat: 1. Warga Negara Indonesia...