Bebalain 12/07/2013. Fashback dua bulan yang lalu, saat pengumuman
penempatan mengajar, aku ditempatkan di kepulauan Rote Ndao. Nama Rote
Ndao begitu asing buatku. Aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Aku semakin panik saat teman-teman mulai menangis karena mendengar
daerah penempatan. ‘Inilah awal aku harus menjalani kisah sebagai
pengajar muda di tempat antah berantah’ pikirku.
Saturday, 27 July 2013
Friday, 26 July 2013
TENTANG AKU DAN INDONESIA MENGAJAR
Rote Ndao, 12/07/2013. Sebelumnya, aku ingin bercerita tentang siapa aku. Namaku Elly, aku lahir dari Lamongan, Jawa Timur. Sekarang usiaku mungkin sudah 23 tahun. Semasa kecil, aku adalah sosok yang tetangga bilang kepadaku, tomboy. Aku malah bingung apa arti tomboy. Itu tidak penting menurutku. Selama menjadi pelajar, aku selalu menghabiskan masa kecilku dengan bermain, aktif di organisasi. Di sekolah entah mengapa nilaiku juga bagus. Padahal aku tak pernah belajar. Mungkin aku boleh sombong sedikit, mungkin ini yang dinamakan kecerdasan Otakku lumayan bagus.
PANTAI OELANGGA, PERBATASAN BEBALAIN DENGAN BANDU
Bebalain, 13/07/2013. Sekitar dua minggu yang lalu, aku melakukan perjalanan menuju Pantai Oelangga. Namaku Nadia. aku adalah seorang guru di SD Inpres Bandu. Aku adalah salah satu pengajar muda dari Indonesia Mengajar yang ditugaskan di Rote Ndao selama satu tahun.
Aku tinggal di perbukitan Hituk di desa Bebalain tepat di depan SD Inpres Bandu dan di belakang gereja Kalvari Bebalain. Aku baru sebulan disini dengan keluarga angkatku yang keturunan raja Bebalain.
HAMPARAN PERBUKITAN MANUANAK ROTE NDAO
Gerakan Indonesia
Mengajar (GIM) membawaku ke daerah yang mungkin tak pernah aku lihat. Aku
ditempatkan untuk mengajar selama setahun di daerah perbukitan Rote Ndao NTT. Rumahku (bersama hostfam penduduk asli Rote)
berada disamping perbukitan Manuanak. Rumahku diperbukitan Hituk. Di puncak
bukit Hituk, aku bisa melihat hamparan luas perbukitan Manuanak. Bukit Manuanak
bisa sepuluh kali lebih luas dibanding bukit Hituk. Kamu bisa membayangkan
betapa bagus dan indah perbukitan Manuanak ini.
Sunday, 7 April 2013
They Call Me 'Nad'
Foto Nur Laili Nahdliyah
Gadis muda ini adalah seorang mahasiswi Perguruan Tinggi Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur angkatan 2008. Nama panggilannya Nad atau Elly, mahasiswi yang cenderung mandiri. Selama kuliah, gadis yang aktif dalam Pers Mahasiswa, sempat menjadi ketua Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia dewan kota Surabaya dalam dua kali periode kepemimpinan.
Nad mengenal Indonesia Mengajar dari sebuah poster yang tertempel di Papan Informasi di fakultasnya, Fakultas Ilmu Budaya Unair. Seketika dia tertegun dengan misi yayasan ini, yakni memberantas buta huruf anak-anak nusantara. Sejak saat itu, dia putuskan untuk bergabung dan mendaftar menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar.
Nad berharap, adanya dia di Indonesia Mengajar, mampu memberikan kontribusi untuk perkembangan pendidikan di Nusantara. Sebab maju atau tidaknya suatu Negara ditentukan oleh perkembangan pendidikan di tiap daerahnya.
Tuesday, 25 December 2012
Selangor, Aku Pasti Datang!!!
Saat aku kecil, aku selalu merasakan bahwa jendela rumahku adalah penghalangku untuk berkeliling dunia, padahal aku selalu bermimpi bisa mengelilingi dunia. Sebuah desiran yang menakjubkan tentang keindahan maha karya Tuhan…
Mata lensaku selalu mesra tergantung dilengan kiriku. Tak pernah sekalipun aku lupa membawanya. Setiap jejak-jejak yang pernah aku injak selalu aku abadikan dalam banyak jepretan. Tentang humanisme, tentang keeksotisan alam, tentang kuliner, atau sekedar merekam keindahan butiran pasir yang sedang bergulat dengan ombak diatas senja yang damai. Sungguh, aku berfikir aku adalah maniak travelling, Backpacker adalah ruhku yang membuatku selalu bersemangat menjalani hidup. Oh God!
Siapa yang tidak suka mengelilingi dunia? Bahkan semasa kecilku, aku selalu bermimpi memiliki kereta pribadi yang bisa mengantarkanku keliling dunia. Sensasi saat melihat tempat baru dan keindahan alam terkadang membuatku tak henti-hentinya berucap betapa indahnya maha karya Tuhan! Walau pada akhirnya kadang aku tersadar, hobiku membutuhkan kantong yang tebal. Tapi selalu saja ada celah untukku, untuk mendatangi tempat-tempat yang aku inginkan dengan modal nekat!
Aku pernah nekat melihat eksotisnya air terjun Haratai di Kalimantan dengan bermodal 500 ribu rupiah. Aku sadar aku harus benar-benar mengirit uangku sebab aku tahu, jarak antara Surabaya dan Kalimantan tidak dekat. Bermodal naik kapal ekonomi dari dermaga Perak Surabaya, aku mendapatkan hikmah yang banyak dari perjalananku itu. Perjanalan itu, mengajariku tentang indahnya saling mengenal, indahnya laut dan lumba-lumba lucu di pagi hari, dan indahnya bintang di langit di malam hari, serta indahnya perjuangan untuk menikmati air terjun Haratai dengan menelusuri lereng bukit dan sungai arus deras. Saat itu, aku dan teman-temanku harus menginap semalam di rumah ketua suku Dayak pedalaman setelah melewati beberapa jembatan gantung.
Pagi harinya baru bisa sampai di air terjun. Sungguh benar-benar mendebarkan!
Aku juga pernah nekat ke daerah Pacitan, perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Aku bermodal uang 100 ribu rupiah dari Surabaya. Tidak lupa aku menenteng kamera prosumer dan memakai tas plus sandal gunung kesayanganku. Aku menaiki kereta ekonomi dari Surabaya sampai Madiun.
Setelah kakiku menginjakkan bumi Madiun, aku langsung menyerbu bapak-bapak penjual Siomay depan stasiun Madiun. Tampak sekali kalau perutku meronta-ronta karena belum diisi.
Sambil menikmati teh hangat, aku mengagumi pemandangan siang hari yang cerah. Sampai akhirnya temanku datang menjemput. Bermodal motor pinjaman, aku menuju Pacitan dengan hati yang tidak sabar. Walau aku harus menahan melihat pantai Pacitan saat aku tahu, malam sudah menjemputku di Pacitan.
Aku mendatanginya keesokan harinya. Rasa puas ku rasakan, saat pantai Pacitan berhasil membuatku tercengang dengan keindahannya.
Again, I was surprised when I look this beautiful place. And I know that GOD is the best creator in this world.
Saat ini, aku melihat kesempatan itu datang. Oh MySelangorStory, aku merasakan hidup kembali dari masa hibernasiku. Aku menunggumu untuk menantangku menginjakkan kaki dan mata lensaku, menelusuri elok keindahan Selangor dan pasti akan aku tulis tiap lekuk indah yang akan membuat siapa saja iri ketika tidak mengunjungi Selangor. Ohya, sejak SMA, aku aktif menulis. Bagiku, menulis dan menikmati alam adalah nafasku. Percayalah MySelangorStory, aku tunggu kabar baikmu...
Monday, 16 July 2012
My MovieScript: Perang, Batin.
Sempat, suatu hari, aku mengikuti pembuatan script Film di English Departement, FIB Unair Surabaya. Terus, aku juga sal-asalan buat script ini loh. Silahkan dibaca guys...
Kisah perjalanan seorang dokter perempuan muda yang menjadi relawan di sebuah kawasan perang di daerah Kalimantan. Dia bernama dokter Elly, pada tahun 1995 dia lulus sebagai dokter muda dari salah satu Perguruan Negeri di Surabaya. Saat itu, Elly masih tergantung dengan orang tua nya. Kehidupan yang tercukupi membuat dia menjadi sosok gadis yang angkuh dan sering melawan orang tua nya. Dia berharap bisa menemukan jati dirinya.
Pada bulan Desember 1996 hingga Januari 1997 terjadi perang antar suku Madura dan Dayak di Sanggauledo - Kalimantan. Mengetahui hal itu, Elly merasa terpanggil untuk menolong korban perang di Kalimantan. Elly berangkat ke Kalimantan atas restu orang tua nya dengan cita-cita siapapun yang bersalah, Elly hanya menolong anak-anak kecil yang tak bersalah dan wanita yang tak berdaya.
Setelah tiba disana, Elly tinggal di sebuah barak korban perang di tepi daerah Sanggauledo. Betapa terkejutnya melihat korban yang berjatuhan, potongan kepala dimana-mana, tumpukan daging manusia yang agak membusuk, dan tangisan anak kecil yang ditinggal mati orang tua mereka. Saat itu juga, Elly sadar betapa angkuh dirinya atas sikap yang buruk terhadap orang tua nya. Dia berusaha mengusap darah yang berceceran dari seorang wanita Dayak yang sedang hamil. Tak sengaja hatinya tergetar dengan seorang pemuda yang juga menjadi relawan disana.
Penderitaan Elly baru dimulai disana, dia mendengar bahwa penduduk Madura mengirimkan ratusan warganya dengan naik perahu ke Kalimantan untuk maju berperang. Terjadi pembantaian antarsuku Madura dan Dayak. Keadaan semakin rumit ketika baraknya dirusak dan dia menjadi tawanan perang. Tidak ada kawan atau lawan baginya. Banyak hal-hal sulit dan berat yang harus dia hadapi. Dibenaknya, terjadi perang batin untuk terus menolong atau kembali ke kotanya. Sampai akhirnya dia menemukan sesuatu yang dia cari selama ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Indonesia Voluntourism : Jelajah Rote Batch 1 2020
https://www.instagram.com/p/B81JQz7JBKa/?igshid=1mzuudl80hvfp Indonesia Voluntourism Jelajah Rote Syarat: 1. Warga Negara Indonesia...
-
Saat aku kecil, aku selalu merasakan bahwa jendela rumahku adalah penghalangku untuk berkeliling dunia, padahal aku selalu bermi...
-
Bebalain 12/07/2013. Namaku Nadia, aku adalah seorang pengajar muda dari Gerakan Indonesia Mengajar. Aku menerima tugas mengajar di Kep...
-
It’s about Netherland Country Belanda, merupakan Negara yang memiliki banyak inovasi, secara general seperti pembangunan tempat/kota men...




